Search This Blog

Saturday, June 12, 2021

Tembang Dolanan

 

Tembang Dolanan Jawa digunakan metode pembacaan model semiotik yang terdiri atas pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Riffaterre, 1978:39). Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang cermat dalam tataran satuan linguistik pada teks tembang dolanan Jawa. Adapun pembacaan hermeneutik adalah pembacaan bolak-balik antara teks tembang dolanan Jawa dengan referensi di luar teks atau realitas sosial budaya masyarakat Jawa yang menjadi latar social dalam tembang dolanan Jawa tersebut.

Dalam masyarakat Jawa tembang sudah ada sejak semula, bahkan sebagian besar warisan budaya nenek moyang (Jawa) dikemas dalam bentuk kidung atau tembang. Salah satu warisan budaya yang dahulu digemari oleh anak-anak (Jawa) adalah tembang dolanan. Tembang dolanan ini bukan hanya berfungsi sebagai lagu yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak ketika bermain dan bersosialisasi dengan lingkungannya, atau lagu sekedar hiburan semata-mata. Lebih dari itu tembang dolanan merupakan karya seni yang sangat menarik karena di dalamnya terkandung makna yang tersirat, berisi pesan-pesan moral yang penting sebagai pembentuk karakter yang baik bagi anak bangsa. Makna yang dimaksud antara lain adalah pesan moral kepada anak-anak untuk memiliki sikap dan kepribadian yang religius, mengutamakan kebersamaan dan keselarasan dalam berhubungan dengan orang lain. Tidak malas atau sombong, rukun dengan sesama, dan senang membantu orang lain.

Ada sembilan pilar karakter, yang penting untuk ditanamkan dalam pembentukan kepribadian anak. Berbagai pilar karakter tersebut sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur universal, meliputi: (1) cinta kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, (3) kejujuran, (4) hormat dan sopan santun, (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama, (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan.


1       2       3       4       5       6       7       8       9       10......

Wednesday, June 9, 2021

Banda Aceh

SEJARAH BANDAR ACEH DARUSSALAM

Banda Aceh dikenal sangat erat kaitannya dengan sejarah gemilang Kerajaan Aceh Darussalam. Di masa kesultanan, Banda Aceh dikenal sebagai Bandar Aceh Darussalam. Kota ini dibangun oleh Sultan Johan Syah pada hari Jumat, tanggal 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M). Saat ini, Banda Aceh telah berusia 816 tahun. Banda Aceh merupakan salah satu kota Islam Tertua di Asia Tenggara. Kota Banda aceh juga memerankan peranan penting dalam penyebaran islam ke seluruh Nusantara. Oleh karena itu, kota ini juga dikenal sebagai Serambi Mekkah.

Jatuh Bangunnya Kota Banda Aceh
Banda Aceh Darussalam sebagai Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam, yang sekarang menjadi Ibukota Daerah Istimewa Aceh, telah berusia 816 tahun, satu atau salah satu Kota Islam tertua di Asia Tenggara. Sebagai Ibukota dari sebuah Kerajaan Islam yang pertama di Asia Tenggara, Banda Aceh Darussalam dalam perjalanan sejarahnya telah pernah mengalami zaman gemilang dan telah pernah pula menderita masa suram yang menggetirkan. Masa-masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah Pemerintahan Sulthan Alaiddin Ali Mughaiyat Syah, Sulthan Alaidin Abdul Kahhar (Al Kahhar), Sulthan Alaiddin Iskandar MudaMeukuta Alam dan Sulthanah Tajul Alam Safiatuddin, adalahmasa masa ZAMAN GEMILANG-nya Banda Aceh Darussalam. 

Banda Aceh Darussalam mengalami percobaan berat, pada masa Pemerintahan Ratu, yaitu ketika golongan oposisi yangterkenal dengan "Kaum Wujudiyah" menjadi kalap karena usahanya untuk merebut kekuasaan gagal, hatta kekalapannya itu mendorong mereka untuk bertindak liar, yaitu membakar Kuta Dalam Darud Dunia, Mesjid Jami' Baiturrahman dan bangunan bangunan lain dalam wilayah kota. Sekali lagi Banda Aceh Darussalam menderita penghancuran yang getir, pada waktu pecah "Perang Saudara" antara Sulthanyang berkuasa dan adik-adiknya; peristiwa tragis yang dilukiskan Teungku Dirukam dalam karya sastranya, Hikayat Pocut Muhammad.
 
Masa yang amat getir dalam sejarah Banda Aceh Darussalam, ialah waktu terjadi Perang selama hampir 70 tahun, yang dilakukan oleh Sulthan dan Rakyat Aceh sebagai jawaban terhadap "ultimatum" Kerajaan Belanda yang bertanggal 26 Maret 1873. Yang lebih perih lagi, yaitu setelah Banda Aceh Darussalam menjadi puing, dan di atas puing Kota Islam yang tertua di Nusantara, Belanda mendirikan KOTA RAJA, sebagai langkah awal dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaan Aceh Darussalam dan Ibukotanya Banda Aceh Darussalam. Banda Aceh Darussalam hancur seluruhnya, sebagai akibat suatu peperangan yang terhebat dan terlama dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Tidak ada satu bangunan pun yang tinggal, karena Mesjid Raya Baiturrahman, Kuta Dalam Darud Dunia, gedung-gedung pemerintahan, toko-toko di wilayah perdagangan dan rumah-rumah rakyat merupakan "benteng" yang dipertahankan dengan gagah berani, hatta menjadi puing yang berserakan di atas bumi yang memerah Pada Saat Itu.
Yang masih sisa dari penghancuran total itu, ialah Kandang-Kandang (Makbarah) para Sulthan dan keluarganya dan Makam-Makam para Ulama Besar. Bangunan-bangunan yang bernilai seni tinggi itulah, yang menjadi SAKSI bisu sepanjang zaman, tetapi sanggup menceritakan MASA LAMPAU ACEH yang megah dan ZAMAN GEMILANG-nya Banda Aceh Darussalam.
Di masa kejayanya, Bandar Aceh Darussalam dikenal sebagai kota regional utama yang juga dikenal sebagai pusat pendidikan islam. Oleh karena itu, kota ini dikunjungi oleh banyak pelajar dari Timur Tengah, India dan Negara lainnya. Bandar Aceh Darussalam juga merupakan pusat perdagangan yang dikunjungi oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk dari Arab, Turki, China, Eropa, dan India. Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaan saat dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang merupakan tokoh legendaris dalam sejarah Aceh.

Banyak dari pelajar dan pedagang pendatang ini akhirnya menetap di Aceh dan menikah dengan wanita lokal. Hal ini menyebabkan adanya pembauran budaya. Hingga saat ini, budaya-budaya masih menyisakan pemandangan di sudut-sudut kota Banda Aceh. Misalnya di Budaya Pecinan di Gampong Peunayong dan peninggalan kuburan Turki di Gampong Bitai dsb.

Wednesday, May 26, 2021

Museum Sriwijaya

Sriwijaya merupakan kerajaan di Sumatera yang mempunyai pengaruh besar di wilayah nusantara. Pada zaman keemasannya, kerajaan Sriwijaya mampu menguasai perdagangan yang wilayah kekuasaanya meliputi Sumatera, Jawa, Pesisir Kalimantan, Semenanjung Malaya, hingga Thailand dan Kamboja.

Sriwijaya merupakan kerajaan di Sumatera yang mempunyai pengaruh besar di wilayah nusantara. Pada zaman keemasannya, kerajaan Sriwijaya mampu menguasai perdagangan yang wilayah kekuasaanya meliputi Sumatera, Jawa, Pesisir Kalimantan, Semenanjung Malaya, hingga Thailand dan Kamboja. Data arkeologi memberikan gambaran atas eksistensi Kerajaan Sriwijaya dari abad VII-XII. Para ahli banyak menemukan benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa prasasti dan berbagai artefak.

Untuk mengenang kembali sambil terus mempelajari dan melestarikan kebesaran Kerajaaan Sriwijaya, maka dibangunlah sebuah museum yang diberi nama Museum Sriwijaya. Museum Sriwijaya merupakan museum yang khusus memperlihatkan artefak-artefak peninggalan Kerajaan Sriwjaya. Menurut Cahyo Susianingsih, Kepala Pengelolaan Koleksi Museum Sriwijaya, lokasi didirikannya museum ini tepat berada di situs Kerajaan Sriwijaya, hal tersebut dibuktikan dari foto interpretasi udara.

Di museum yang berlokasi di Jalan Syakirti Karang Anyar, Palembang, ini terdapat berbagai benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa artefak, seperti prasasti, arca, manik-manik, keramik, hingga pecahan kapal dan kemudinya. Jumlah koleksi yang dipamerkan di Museum Sriwijaya mencapai 500 artefak. Jumlah tersebut belum termasuk berbagai pecahan artefak yang belum terdata karena jumlahnya yang sangat banyak.

Diantara jumlahnya yang ratusan, terdapat tiga artefak utama berupa prasasti yang menandakan keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Ketiga prasasti tersebut antara lain, Prasasti Kedukan Bukit (1682 m), prasasti ini bercerita tentang perjalanan oleh dapunta Hyang Sriwijaya Nska yang diiringi oleh 20.000 tentara melalui jalur laut, dan 13.200 yang melalui darat. Secara umum prasasti tersebut bercerita tentang perjalanan yang diakhiri oleh keberhasilan dan kemenangan.


Kedua adalah prasasti Telaga Batu, prasasti ini menceritakan tentang struktur birokrasi pemerintahan Sriwijaya. Pada prasasti tertulis tentang putra mahkota I-III, arsitek, orang-orang yang berperan dalam perihal agama, selain itu juga tertulis pekerjaan lain seperti tukang cuci istana. Para arkeolog menyebut Prasasti Telaga Batu sebagai prasasti persumpahan, sebagai penanda agar mereka sebagai abdi negara taat kepada raja.

Prasasti lain adalah prasasti Talang Tuo, prasasti ini menceritakan tentang pendirian sebuah taman yang diberi nama Taman Srikesetra. Di dalam prasasti tersebut disebutkan, pembangunan Taman Srikesetra merupakan nazar atas kemenangan Kerajaan Sriwijaya. Taman Srikesetra dibangun dan diperuntukkan kepada seluruh masyarakat Sriwijaya. Menariknya, dalam prasasti ini juga tertulis berbagai jenis tanaman, termasuk salah satunya adalah tanaman sagu.

Selain tiga prasasti utama yang menjelaskan kejayaan Kerajaan Sriwijaya, benda peninggalan bersejarah lain yang juga menjadi koleksi Museum Sriwijaya adalah beranekaragam arca Buddha, seperti arca Buddha bukti Siguntang, arca buddha Awilokiteswara, hingga replika struktur batu-batu yang berbentuk stupa, yang ditemukan berdasarkan eskavasi balai arkeologi pada tahun 2013. Sementara pada bagian yang lain, di museum ini juga ditemukan kemudi kapal yang mempunyai panjang mencapai 8,2 meter. Hal tersebutlah yang membuktikan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang pernah menguasai perairan nusantara.

Kebesaran Kerajaan Sriwijaya tidak hanya di perairan, mengingat kerajaan ini juga telah lama hidup dalam keberagaman dan toleransi yang tinggi. Hal ini dapat dibuktikan, meskipun Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha, namun di wilayah Sriwijaya juga banyak ditemukan arca Trimurti, Brahma, Siwa, dan Wisnu yang bernafaskan Hindu, selain juga ditemukannya perkampungan muslim. Museum Sriwijaya kerap menjadi tujuan wisata sejarah bagi kebanyakan siswa sekolah, para mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, hingga turis asing yang sengaja datang dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, dan China.

Museum Sriwijaya makin dicintai oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga masyarakat umum. Mereka harus menyadari arti penting museum bagi keberlangsungan kebudayaan. Mengingat museum menyimpan banyak hal yang bisa dipelajari. Apalagi museum ini berisikan tentang peninggalan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan yang merupakan bagian dari sejarah Indonesia bahkan dunia. Karenanya, tidak hanya orang Palembang yang mesti paham akan keberadaan Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia mesti paham, mengingat Kerajaan Sriwijaya merupakan bagian dari Indonesia.


Situs Karanganyar terletak di Jalan Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, Palembang. Terletak pada dataran aluvial pada meander Sungai Musi berhadapan dengan pertemuan sungai Musi dengan sungai Ogan dan Kramasan. Belahan utara Sungai Musi sudah sejak lama diketahui sebagi lokasi sejumlah situs arkeologi yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-15 masehi, di antaranya adalah situs Kambang Unglen, Padang Kapas, Ladang Sirap, dan Bukit Seguntang yang terletak dekat dengan situs Karanganyar.Situs Karanganyar pada umumnya memiliki ketinggian kurang dari 2 meter dari permukaan sungai Musi. Berada sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang, tepatnya di sebelah selatan Bukit Seguntang. Taman Purbakala ini dapat dicapai dari pusat kota Palembang dengan kendaraan umum dengan jurusan Tangga Buntung-Gandus.

Lokasi Situs Karanganyar terbagi atas tiga subsitus, yaitu subsitus Karanganyar 1, 2, dan 3. Yang terbesar adalah subsitus Karanganyar 1 berupa sebuah kolam berdenah empat persegi panjang membujur arah utara-selatan berukuran 623 x 325 meter. Di tengah kolam ini terdapat dua pulau, yaitu Pulau Nangka dan Pulau Cempaka. Pulau Nangka berukuran 462 x 325 meter, sedangkan Pulau Cempaka berukuran 40 x 40 meter. Pulau Nangka dikelilingi parit-parit berukuran 15 x 1190 meter. Subsitus Karanganyar 2 terletak di sebelah barat daya kolam 1 dan merupakan kolam kecil, ditengahnya terdapat pulau kecil berdenah bujur sangkar dengan ukuran 40 x 40 meter. Subsitus Karanganyar 3 berada di sebelah timur subsitus Karanganyar 1 dengan denah bujur sangkar berukuran 60 x 60 meter. Ketiga subsitus tersebut dihubungkan oleh parit yang berjumlah tujuh buah. Parit 1 merupakan parit terpanjang, yaitu 3 kilometer dengan lebar 25 sampai 30 meter. Parit ini oleh penduduk setempat dinamai parit Suak Bujang. Sejajar dengan parit 1 terdapat parit 2 dengan panjang 1,6 kilometer. Parit ini terletak di sebelah selatan subsitus Karanganyar 1 dan 3. Ujung parit ini berasal dari subsitus Karanganyar 2, sedangkan ujung timurnya bernuara di sungai Musi. Parit 1 dan 2 dihubungkan dengan parit 3 yang terletak di antara subsitus 1 dan 3. panjang parit 3 sekitar 700 meter membujur utara-selatan. Masih ada parit lain yang sejajar dengan parit 3, yaitu parit 4 dan 5 yang terletak di sebelah barat subsitus 1. Ujung selatan parit 4 dan 5 berakhir di parit 2. Dari parit 2 terdapat dua buah parit yang ujung selatannya bermuara di sungai Musi, yaitu parit 6 dan 7.

 Di lokasi yang dipercaya sebagai sisa taman kerajaan masa Sriwijaya ini dijumpai artefak yang menampakkan aktivitas keseharian masyarakatnya, seperti manik-manik, struktur batu bata, damar, tali ijuk, keramik, dan sisa perahu. Temuan-temuan tersebut diperoleh saat pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya maupun melalui kegiatan penyelamatan temuan di sekitar kawasan ini. Rekonstruksi atas fragmen keramik yang banyak ditemukan memperlihatkan adanya penggunaan, tempayan, guci, buli-buli, mangkuk, dan piring. Sedangkan berdasarkan rekonstruksi dari sisa gerabah menunjukkan pemanfaatan berbagai bentuk tungku atau anglo, kendi, periuk, tempayan, pasu, dan bahkan genteng. Kumpulan temuan-temuan ini menunjukkan betapa padatnya aktivitas keseharian masyarakat yang hidup di kawasan ini pada masa lalu.

Situs ini utamanya menampilkan struktur bangunan air berupa kolam, pulau buatan, dan parit yang keberadaannya menjadi bukti kehadiran manusia yang menetap dalam jangka waktu yang cukup lama. Diperkirakan penduduk yang dulu menghuni kawasan Karanganyar menggali kanal atau parit seperti parit Suak Bujang, baik untuk saluran drainase tata air penangkal banjir maupun sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan daerah-daerah pedalaman di sekitar situs dengan sungai Musi.

Temuan Purbakala ,Pada tahun 1985 dilakukan penggalian arkeologi dan berlanjut pada tahun 1989. Dari penggalian ini ditemukan banyak temuan pecahan tembikar, keramik, manik-manik, dan dan struktur bata. Berdasarkan hasil analisis keramik-keramik China yang ditemukan di kawasan ini berasal dari dinasti Tang (abad VII-X M), Song (abad X-XII M), Yuan (abad XIII-XIV M), dan dinasti Qing (abad XVII-XIX M) yang umumnya terdiri dari tempayan, buli-buli, pasu, mangkuk, dan piring. Sedangkan penggalian yang dilakukan di Pulau Cempaka berhasil menampakkan kembali sisa bangunan berupa struktur bata pada kedalaman 30 cm dengan orientasi timur-barat. Selain jejaring kanal, kolam dan struktur bata, di situs ini tidak ditemukan bekas peninggalan bangunan candi atau bekas istana yang signifikan. Hal ini berbeda dengan situs Muaro Jambi yang memiliki peninggalan berupa bangunan candi berbahan bata merah. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa sedikitnya temuan bangunan karena lokasi situs ini. Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berada di tepian sungai dan hutan lebat di Sumatra. Karena tidak terdapat gunung berapi yang menyimpan batu, bangunan peribadatan, istana, dan rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu atau bahan bata. Akibatnya, bangunan cepat rusak hanya dalam hitungan paling lama 200 tahun. Ditambah lagi dengan tingginya tingkat kelembaban serta kemungkinan banjir rutin dari luapan sungai Musi di dekatnya yang dengan mudah dapat merusak bangunan kayu dan bata.

Berdasarkan interpretasi dan temuan dari foto udara tahun 1984 menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi. Dapat dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta parit dengan luas areal meliputi 20 hektare. Serangkaian kanal, pulau buatan, dan bagian-bagian lainnya menampilkan situs Karanganyar sebagai karya arsitektur lansekap yang berkaitan dengan bangunan air.


Oleh pemerintah Sumatra Selatan kawasan ini dipugar, kanal-kanalnya dirapikan untuk dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya yang diresmikan oleh presiden Suharto pada tanggal 22 Desember 1994. Di dalam taman purbakala ini terdapat Museum Sriwijaya, yaitu pusat informasi mengenai situs dan temuan Sriwijaya di Palembang .Pada bagian tengah situs ini terdapat pendopo berarsitektur rumah limas khas Palembang yang ditengahnya disimpan replika Prasasti Kedukan Bukit dalam kotak kaca. Prasasti ini menceritakan mengenai perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang yang dianggap sebagai tonggak sejarah berdirinya kemaharajaan Sriwijaya. Setelah lebih dari satu dasawarsa didirikan, fungsi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Informasi Sriwijaya dan sebagai daya tarik wisata budaya di Palembang masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagian besar masyarakat Palembang sekarang masih belum mengetahui keberadaan taman purbakala ini sebagai peninggalan masa Sriwijaya, apalagi sebagai pusat informasi tentang Sriwijaya. Selama ini Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Sayang sekali kini kompleks taman purbakala ini terbengkalai dan kurang terawat. 

 1.Indonesia Travel. "Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya". Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Diakses tanggal 2011-12-02. 2.Ilham Khoiri. "Mengais Jejak Kebesaran Sriwijaya". Sumsel News Online. Diakses tanggal 2011-12-02. 3.Nurhadi Rangkuti (2009-10-24). "Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya Sebagai Pusat Informasi Sriwijaya". Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi Wilayah Kerja Propinsi Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-26. Diakses tanggal 2011-12-02. 4.palembangnews.com. "Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya". Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Palembang. Diakses tanggal 2011-12-02.

Sunday, November 24, 2019

Museum Etnobotani Bogor

Indonesia jika ditinjau dari segi iklim sangat memungkinkan adanya keanekaragaman tumbuhan yang hidup di berbagai kawasannya. Indonesia juga sangat bervariasi dalam kategori suku bangsa, sub suku bangsa, kelompok sosial, komunitas kecil dan lain sebagainya yang memiliki kebudayaan berbeda, adat dan tatanan hidup yang berbeda pula. Keberagaman tersebut juga tercermin dari cara memperlakukan dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Etnobotani merupakan cabang dari ilmu tumbuhan yang mempelajari mengenai hubungan antara suku – suku asli dengan berbagai tumbuhan di sekitar lingkungan hidup mereka, juga bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan sehari – hari.

Etnobotani dibedakan menjadi dua suku kata yaitu ‘Etno’ yang artinya etnik atau etnis, dan ‘Botani’ yang berarti rerumputan dalam bahasa Yunani. Istilah etnobotani pertama kali diperkenalkan oleh John William Harshberger, antropolog Amerika pada 1895. Etnobotani dapat memberi bantuan bagi aspek botani dalam menentukan asal mula tumbuhan, penyebarannya, penggalian potensi sebagai sumber kebutuhan hidup, apa makna tumbuhan dalam suatu kebudayaan dan tanggapan masyarakat mengenai satu jenis tumbuhan tertentu. Perkembangan teknologi modern yang pesat seringkali juga dapat mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan suku – suku bangsa di Indonesia, yang bisa berakibat terkikisnya pengetahuan mengenai tumbuhan secara tradisional.
Sejarah Museum Etnobotani Bogor dan Koleksinya
Pendirian museum Etnobotani berangkat dari keprihatinan dan kekhawatiran akan kehilangan ilmu pengetahuan tradisional tersebut. Gagasan untuk mendirikan museum pertama kali dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo sebagai Ketua LIPI pada saat itu. Ide tersebut dikemukakan bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Herbarium Bogoriense pada tahun 1962. Akan tetapi tindak lanjutnya baru dipikirkan dan dimantapkan kembali ketika pada tahun 1973 Dr. Setijati Sastrapradja menjadi Direktur LBN (Lembaga Biologi Nasional).

Beliau mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh permuseuman, ahli ilmu sosial, kemasyarakatan dan ilmu antropologi, juga dengan para pakar botani. Melalui proses panjang, museum akhirnya berdiri dan diresmikan pada 18 Mei 1982 oleh Menristek B.J. Habibie. Tema dari Sejarah Museum Etnobotani Bogor dan Koleksinya adalah ‘Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia’. Museum didirikan untuk menjadi tempat penyimpanan berbagai artefak atau peninggalan materi dari alam terutama tumbuhan dan bagaimana peranannya dalam kehidupan berbagai suku bangsa asli di Indonesia. Adapun tugas dan fungsi didirikannya museum adalah:
Menjadi pusat informasi mengenai berbagai bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.
Melestarikan kekayaan flora dan budaya di Indonesia yang sangat beragam.
Mendorong kreativitas dan daya cipta mengenai pemanfaatan berbagai jenis tumbuh – tumbuhan.
Menginformasikan mengenai lingkup kegiatan dalam penelitian etnobotani.

Lokasi museum di Bogor ini terletak di Jalan Juanda nomor 22 – 24, Bogor, di seberang Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menjadi pusat penelitian biologi, dan dekat dengan Istana serta Kebun Raya Bogor. Gedung yang sekarang digunakan dalam Sejarah Museum Etnobotani Bogor dan Koleksinya dulu dikenal sebagai gedung Herbarium Bogoriense, pusat penelitian mengenai tanaman yang dibentuk oleh para pengelola Lands Platentuin yang menjadi cikal bakal Kebun Raya Bogor pada tahun 1834. Herbarium Bogoriense kemudian dipindahkan lokasinya ke Cibinong agar mampu menampung lebih banyak spesimen dan menjadi herbarium terbesar ketiga di dunia. Ketahui juga mengenai sejarah museum kepresidenan, sejarah istana Bogor, dan koleksi museum Zoologi Bogor.
Koleksi Museum Etnobotani Bogor
Dalam Sejarah Museum Etnobotani Bogor dan Koleksinya, koleksi yang dipamerkan berjumlah sekitar 1700 buah yang berasal dari semua propinsi di Indonesia. Koleksi dari museum dikumpulkan oleh para peneliti khususnya para peneliti dari LBN (Puslit Biologi). Penataan artefak lumayan apik dengan penomoran dan pada setiap koleksi dilengkapi dengan keterangan tertulis sebagai informasi. Pameran koleksi tidak dibagi berdasarkan wilayah asalnya tetapi berdasarkan jenis tumbuhan dan bagaimana pemanfaatannya.

Secara garis besar pembagian koleksi dibagi dalam dua jenis, yaitu koleksi pameran yang menggambarkan jenis tumbuh – tumbuhan dan berbagai barang yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan tumbuhan tersebut. Di bagian lain memperlihatkan koleksi yang menunjukkan bagaimana suku – suku Indonesia memanfaatkan tumbuhan tersebut. Misalnya diorama yang memperlihatkan bentuk rumah suku Batak di masa lampau dengan atap rumah terbuat dari rumbia. Di lokasi lain juga terdapat diorama tema permainan anak – anak. Setidaknya terdapat sekitar 50 buah diorama dengan berbagai tema yang ditempatkan berjejer dalam 5 lajur pajangan dengan topik yang berbeda – beda.
Ada juga beberapa koleksi yang disatukan berdasarkan daerahnya masing – masing, seperti pada pemanfaatan daun lontar yang menjadi primadona diantara suku – suku di Nusa Tenggara Timur dan sering dibuat menjadi aneka kerajinan dari mulai wadah air hingga sasando, alat musik khasnya. Di area pameran tenun dipamerkan beragam alat tenun dari kayu, pakaian yang terbuat dari kulit kayu, area replika rumah adat yang dibuat menggunakan tumbuhan.
Ada juga pajangan kencur, beras, kunir, asam, jahe, biji kedawung, lempuyang dan berbagai rempah – rempah serta tumbuhan herbal lainnya. Juga dipamerkan berbagai perlengkapan rumah tangga dan peralatan kerja yang terbuat dari rotan dan lontar, berbagai jenis topi, bubu untuk menangkap ikan, tampah, macam – macam bentuk keranjang dari bahan dasar bambu. Juga ada peralatan dari berbagai kerajinan tradisional seperti cangkul sagu, topi, anyaman langit – langit rumah, atap, dinding, peralatan pertanian dan alat rumah tangga dari bahan sagu.
Kemudian dalam Sejarah Museum Etnobotani Bogor dan Koleksinya juga dipamerkan luku atau bajak dalam ukuran aslinya yang dipakai para petani untuk membalik tanah di sawah sebelum ditanami dengan padi. Bajak ditarik oleh kerbau atau sapi pada zaman dulu tetapi sekarang banyak diganti dengan traktor. Begitu juga dengan koleksi garu dalam ukuran yang asli, biasanya dipakai untuk menandai baris yang akan ditanami padi setelah sawah dibajak. Beberapa spesimen tanaman yang sudah diawetkan juga dipajang dalam toples kaca tertutup, yang diambil dari seluruh Indonesia dan lalu dikeringkan, disimpan dan diberi label. Ada juga spesimen yang tidak dikeringkan, disimpan dalam botol kaca dan diberi larutan pengawet.

Gedung museum akan menempati lima lantai termasuk lantai dasar yang masih digunakan sebagai museum Etnobotani. Rencananya, lantai semi basement akan menjadi tempat untuk fasilitas pendukung permuseuman seperti kantor, perpustakaan, gudang, penyimpanan dan lain – lain. Lantai 1 untuk ruang informasi umum, lantai 2 untuk pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat di Indonesia, lantai 3 untuk pameran ketergantungan manusia terhadap lingkungannya, lantai 4 untuk perkembangan teknologi pemanfaatan terkini, lantai 5 akan menjadi kafetaria dan vertical garden. Ketahui juga mengenai sejarah berdirinya istana Bogor dan sejarah museum zoologi Bogor.

Friday, November 8, 2019

Penjelasan Makna Gunungan

Secara umum Gunungan menggambarkan bentuk gunung, profil lapisan permukaan bumi yang menonjol. Gunung mempunyai sifat alamiah yang stabil. Gunung menggambarkan tempat yang tinggi, sejuk, oksigen yang tipis, lereng yang curam penuh hutan belukar, pada kaki gunung biasanya terdapat dataran yang subur. Daerah pegunungan cocok sebagai tempat peristirahatan, tempat mencari kedamaian batin. Pemandangan yang indah dan alami di pegunungan membangkitkan rasa terdalam dalam diri seseorang. 
Oksigen yang tipis di pegunungan mengakibatkan seseorang kurang bicara, dan mudah mendapatkan inspirasi. Otak kita mendapat masukan energi dari sari-sari makanan dan oksigen. Pasokan oksigen yang tipis di tempat pegunungan yang tinggi, membuat pikiran seseorang berkurang keaktifannya, berkurang keliarannya dan menjadikannya lebih meditatif.

Para leluhur kita menempatkan gunung sebagai tempat pertapaan orang-orang suci. Beberapa wilayah gunung dikeramatkan, dijadikan tempat suci, ada yang dinamakan Dieng dari kata dhyang, ada yang disebut Parahiyangan, tempat para Hyang, Kahyangan, tempat para makhluk suci. Nama tempat suci Himalaya, Mahameru, Kailasa bahkan Gua Hira semuanya berada di atas Gunung. 
Dari gunung kelihatan pemandangan yang luas di bawah. Semakin ke atas semakin luas batas cakrawala yang nampak. Semakin ke atas kesadaran seseorang, dia akan melihat secara general, umum dan tidak lagi terfokus pada detail yang rinci. Semakin tinggi kesadaran seseorang, pandangannya menjadi semakin holistik.

Seseorang yang pandangannya terfokus ke atas, ke puncak, hanya melihat fokus tujuannya saja. Itulah sebabnya seseorang yang terfokus pada pencapaian kesadaran tinggi, sering tidak peduli dengan kondisi masyarakat sekitar, sering alpa dalam memahami kondisi negerinya. Para leluhur kita menyebut seseorang yang dapat menjelaskan segala sesuatu secara alami, secara natural sebagai Resi. Seseorang yang telah mencapai puncak kesadaran, selanjutnya dari puncak akan melihat ketidak benaran, ketidak adilan di bawah dengan jelas, sehingga dia akan memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. Seorang Master, seorang Bhagawan, begitu para leluhur menyebutnya, akan peduli dengan nasib tetangga. Seseorang belum menjadi orang yang baik bila ada tetangganya yang tidak dapat tidur dengan perut keroncongan. Leluhur kita menyebut contoh Resi Drona yang pemahamannya tentang alam luar biasa, tetapi membela kaum Kurawa yang jahat yang telah memberi kehidupan dan kehormatan bagi dirinya. Lain halnya dengan Bhagawan Abiyasa, leluhur Pandawa, seorang pertapa sederhana tempat Arjuna menanyakan segala sesuatu.
Bangunan Candi, seperti halnya bangunan Piramid, juga bermaksud menggambarkan sebuah gunung. Dari jauh Candi Borobudur nampak seperti bukit dengan sawah yang bertingkat-tingkat. Candi megah ini terletak di pusat Pulau Jawa, dikelilingi oleh perbukitan Menoreh yang membujur dari arah Timur ke Barat dan juga oleh berbagai gunung-gunung berapi seperti Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, dan Gunung Sumbing dan Sindoro di sebelah Barat. Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini disebut stupa karena berhubungan dengan agama Buddha walaupun sentuhan Hindunya nampak kental sekali. Inilah budaya khas Nusantara yang menghormati semua kepercayaan yang ada.

Terdapat tiga bagian dari Candi Borobudur yang merupakan simbol Tiga Alam yaitu: Kamadhatu-Rupadhatu-Arupadhatu, alam bawah, alam tengah (antara) dan alam atas, suatu perwujudan antar hubungan mikrokosmos dan makrokosmos. Bagian kaki melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu, keinginan yang rendah, yaitu dunia manusia biasa. Bagian tengah melambangkan Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan alam antara yang memisahkan alam bawah(kamadhatu) dengan alam atas (arupadhatu). Bagian atas, Arupadhatu, yaitu alam atas atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, dan tidak berrelief.

Dalam kehidupan sehari-hari bentuk gunung diwujudkan para leluhur kita dalam berbagai peralatan. Diantaranya adalah caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi mata tetap dapat memandang dengan leluasa. Selanjutnya, atap rumah joglo, yang menunjukkan bahwa pusat bangunan dengan lantai tertinggi terlelak di pusat, dibawah puncak atap dan merupakan tempat berdoa yang paling efektif. Nasi tumpeng juga berbentuk kerucut, dan puncaknya dipersembahkan kepada pimpinan tertinggi dalam acara ritual. Payung kraton bertingkat tiga juga menggambarkan tingkatan dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu. 
Gunungan berbentuk simetris di sebelah kiri dan kanan. Semakin ke bawah jarak antara kiri dan kanan melebar. Semakin ke atas sifat dualistis tersebut semakin kecil dan pada akhir, ujungnya terlampauilah sifat dualistis. 

Penjelasan Makna Gunungan
Berikut ini adalah penjelasan Gunungan oleh Drs. R. Soetarno AK, Ensiklopedia Wayang, Dahara Prize, Cetakan Keempat, 1994.

Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Di bawahnya terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai. Itu melambangkan pintu gerbang istana, dan pada waktu dimainkan Gunungan dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular naga. Dalam Gunungan tersebut terdapat juga gambar berbagai binatang hutan. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara.
Gunungan melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Sebelum wayang dimainkan, Gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, Gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.

Gunungan dipakai juga sebagai tanda akan bergantinya lakon (tahapan cerita). Untuk itu Gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu Gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Dalam hal ini Gunungan dibalik, di sebaliknya hanya terdapat cat merah-merah, dan warna inilah yang melambangkan api. 
Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan, tentara yang siap siaga dengan bermacam senjata. Dalam hal ini Gunungan bisa berperan sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya, yakni mengikuti dialog dari Dalang. Setelah lakon selesai, Gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah tamat.
Gunungan ada dua macam, yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan. Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga dalam zaman Kerajaan Demak. Kemudia pada zaman Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. Gunungan dalam istilah pewayangan disebut Kayon. Kayon berasal dari kata Kayun. Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan. Semua itu mengandung makna bahwa lakon dalam wayang berisikan pelajaran yang tinggi nilainya. Hal ini berarti bahwa pertunjukan wayang juga berisi pertunjukan wayang juga berisi ajaran filsafat yang tinggi.
Interpretasi Simbolisme dalam Gunungan
Dalam tradisi leluhur, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pemantap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga memberi makna bahasa alam yang dipercaya sebagai bentuk isyarat akan kehendak Gusti Kang Murbeng Gesang, Pemberi Kehidupan. Leluhur kita merasa lebih mantap jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja, melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. 

Dalam Gunungan terdapat gambaran tentang air, api, angin dan tanah. Gunungan mewakili lima unsur alam, yaitu tanah, air, api, angin dan ruang. Semua benda di alam ini merupakan kombinasi dari kelima unsur tersebut. Pada saat pagelaran wayang, sebelumnya hanya ada layar putih saja dengan Gunungan yang berada di tengah-tengahnya. Setelah Gunungan dimainkan dan kelima unsur tersebut membentuk alam, maka dimulailah cerita kehidupan di alam ini. Karena cerita berfokus pada istana, maka Gunungan Blumbangan gubahan Sunan Kalijaga pada waktu Kerajaan Demak diubah menjadi Gunungan Gapuran pada waktu Kerajaan berpusat di Kartasura. Pada setiap babak yang biasanya diawali dengan penggambaran suasana istana, maka Gunungan dimainkan. Demikian pula pada saat terjadi keributan misalnya amukan api atau gelombang samudera, Gunungan dengan posisi disebaliknya dimainkan. Setelah selesai maka Gunungan kembali diletakkan di tengah layar. Setelah pralaya maka setiap orang akan kembali kepada unsur-unsur alaminya.

Dalam setiap babak kehidupan mulai dari lahir sampai mati para leluhur mengingatkan perlunya kesadaan untuk memahami sangkan paraning dumadi, asal muasal kehidupan. Manusia ini asalnya dari Gusti Kang Murbeng Gesang, Yang Maha Pemberi Kehidupan, melalui lima unsur alami dan akhirnya kembali juga kepada lima unsur alami dan bersatu dengan Yang Maha Kuasa. Itulah mengapa setiap babak selalu diawali dan diakhiri dengan dimainkannya Gunungan oleh sang Dalang. Segala sesuatu diawali dengan kelahiran, kemudian jagad gumelar, dunia terkembang dan diakhiri dengan jagad ginulung, dunia tergulung dan musnah. Di dunia ini tidak ada yang abadi.
Dalam pagelaran wayang yang tidak kalah penting adalah alunan suara gamelan. Suara gamelan menyentuh rasa yang terdalam diri manusia yang sudah halus rasanya. Suara Gong: Hooongggg. Ataupun suluk Dalang: Hooongggg.. kocap kacarita……. dan seterusnya adalah doa untuk ingat kepada Yang Maha Kuasa. Suara Pranawa Aum, Om oleh leluhur kita terdengar seperti oleh bangsa Tibet:Huuungggg, dan leluhur kita membuat suara alat musik yang disebut gong. Itulah mengapa upacara seremonial memakai gong, sehingga tanpa sadar kita sudah berdoa dan ingat jatidiri manusia.
Penjaga Gerbang Istana Dua Raksasa Dwarapala 
Dua penjaga Raksasa Dwarapala di depan istana dalam Gunungan, juga selalu terdapat dalam dua sosok arca di depan gerbang istana. Dua raksasa yang bernama Jaya dan Wijaya juga diabadikan sebagai nama pegunungan di Papua sebagai pintu gerbang Indonesia dari sebelah timur. 
Mereka adalah penjaga gerbang setia di Vaikuntha, Istana Wisnu. Dikisahkan Wisnu ingin suasana tak terganggu saat berdua dengan istrinya Lakshmi. Jayadan Wijaya diinstruksikan untuk tidak mengizinkan semua pengunjung masuk. Empat tamu telah mempunyai janji untuk bertemu dengan Wisnu, akan tetapiJaya dan Wijaya menolak mereka masuk ke dalam istana. Ke empat tamu tersebut marah dan memberi kutukan bahwa ke dua raksasa penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Wisnu. 

Setelah selesai kejadian, Wisnu datang dan mengatakan bahwa mereka cukup lahir tiga kali sebagai musuh Wisnu dan akan kembali lagi bersama Wisnu. Jalan yang biasa ditempuh manusia untuk Jumbuh Kawula Gusti, bertemu dengan Gusti adalah dengan jalan berbuat kebaikan, dharma. Jalan Jaya dan Wijaya adalah jalan pintas tercepat, setiap saat dalam kehidupannya di dunia mereka hanya berpikir tentang musuhnya yaitu Wisnu, tak ada waktu senggangpun tanpa berpikir tentang Wisnu musuhnya. 
Jaya dan Wijaya pertama kali lahir sebagai saudara kembar iblis, Hiranyakshadan Hiranyakashipu yang dibunuh oleh Prahlada sebagai titisan Wisnu. Jaya danWijaya kemudian mengambil kelahiran kedua sebagai Rahwana danKumbhakarna, yang terbunuh oleh Sri Rama sebagai titisan Wisnu juga. Akhirnya, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Shishupal dan Dantavakra dan dibunuh oleh Wisnu yang menitis sebagai Sri Krishna.

Hutan tanaman dan binatang adalah berbagai sifat dan tabiat manusia. Dalam Gunungan terdapat gambaran tentang hutan tanaman dan binatang. Jutaan tahun sebelum manusia hadir, bumi telah dipersiapkan melalui mekanisme alam semesta. Bumi terpilih sebagai lokasi yang ideal untuk kehadiran berbagai tumbuh-tumbuhan, fauna-flora dan manusia serta makhluk-makhluk yang kita tidak mengetahuinya.
Di mulai dengan tumbuh-tumbuhan yang bersel satu sedikit demi sedikit pertumbuhan tanam-tanaman berevolusi ke wujud-wujud yang lebih sempurna, baru kemudian hadir fauna, dan jutaan tahun kemudian hadir manusia dari suatu ekosistem yang saling menunjang, saling membutuhkan, semuanya lestari, berkesinambungan, yang kita sebut dengan suatu kesatuan. 

Suatu teknologi yang sangat menakjubkan, setiap bentuk warna, dari suatu tumbuh-tumbuhan bermanfaat berbeda suatu dengan yang lainnya. Juga berbagai cabang, ranting, akar, umbi-umbian dari sesuatu tanamanpun berbeda-beda manfaatnya. Diperlukakan kurun waktu yang panjang untuk mempelajari semuanya. Leluhur kita bahkan menyimbulkan berbagai buah-buahan sebagai persembahan yang sakral bagi Yang Maha Kuasa. Kekuatan tanaman disebut Sri(Yang Maha Agung), agar umat manusia mau mengikuti hukum alam dengan menyantap tanaman sebagai sumber energi, obat-obatan, gizi, protein, vitamin dan lain-lainnya.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kata sayur dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Sansekerta ayur yang berarti tumbuh-tumbuhan yang menyehatkan atau yang bermanfaat bagi umat manusia. Ilmu mengenai kesehatan yang dihasilkan oleh berbagai tumbuh-tumbuhan ini sudah hadir ribuan tahun yang lalu dengan nama Ayur-veda. Para ahli kesehatan meneliti berbagai manfaat dari berbagai tumbuh-tumbahan yang hadir di berbagai belahan bumi, dan berbagai topografi dan iklim yang berbeda-beda.

Manusia perlu sadar bahwa di dalam dirinya masih tersisa nafsu kebinatangan. Kebutuhan makan-minum, kenyamanan dan seks dalam diri binatang juga masih ada dalam diri manusia. Manusia harus meningkatkan harkat dirinya dengan sifat kasih dan ketidak terikatan terhadap dunia. Hidupnya hanya untuk berbakti dan melayani sesama. Alam semesta ini juga tidak mempunyai pamrih kecuali sekedar berbakti dan melayani makhluk hidup.

Alam bersifat memberi dan tidak membeda-bedakan
Pada hakikatnya Gunungan memuat ajaran agar manusia meneladani alam dan bertindak selaras dengan alam. Ajaran Astabrata dari Rama kepada Wibisanapada hakikatnya adalah pelajaran bagi manusia agar meneladani tindakan alam.Rama memberi nasehat kepada Wibisana, agar meniru sifat: Matahari, Bulan,Bintang, Awan, Bumi, Samudera, Api dan Angin. Ke delapan unsur alam tersebut semuanya bertindak sesuai kodratnya. Mereka hanya sibuk bekerja menjalankan tugas dari Yang Maha Kuasa saja. Inilah contoh dari alam semesta yang bersifat kasih, hanya memberi, tanpa membeda-bedakan, dan tanpa pamrih sedikit pun juga. 
Tanaman dan hewanpun memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu jauh melebihi kebutuhannya untuk makan di luar musim bunga. Bahkan lebah menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih dan ebih banyak memberi kepada makhluk lainnya.

Gunungan (Oleh: Dickens)
Dalam setiap pergelaran wayang baik wayang golek maupun wayang kulit selalu ditampilkan gunungan. Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon.
Gunungan bagian muka menyajikan lukisan bumi, gapura dengan dua raksasa, halilintar, hawa atau udara, dan yang asli ada gambar pria dan wanita. Tempat kunci atau umpak gapura bergambarkan bunga teratai, sedang diatas gapura digambarkan pepohonan yang banyak cabangnya dengan dedaunan dan buah- buahan. Di kanan-kiri pepohonan terlihat gambar harimau, banteng, kera, burung merak, dan burung lainnya. Di tengah-tengah pepohonan terdapat gambar makara atau banaspati (wajah raksasa dari depan).
Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi geni dadi sucining jagad yang mempunyai arti 3441 dibalik menjadi 1443 tahun Saka. Gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka.

Fungsi dari gunungan ada 3 yakni:
  1. Dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas sandiwara.
  2. Sebagai tanda untuk pergantian jejeran (adegan/babak).
  3. Digunakan untuk menggambarkan pohon, angin, samudera, gunung, guruh, halilintar, membantu menciptakan efek tertentu (menghilang/berubah bentuk).

Kata kayon melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya yang mengalami tiga tingkatan yakni:
Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan, yang orang mengartikan pohon Kalpataru, yang mempunyai makna pohon hidup.
Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan- hewan yang terdapat di tanah Jawa.
Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sekarang hanya dalam prolog dalang saja.
Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berartiBrahma mula, yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura, mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang Hyang Wisnu, yakni tempat pertumbuhan hidup.
Berkumpulnya Brahma mula dengan Padma mula kemudian menjadi satu dengan empat unsur, yaitu sarinya api yang dilukiskan sebagai halilintar, sarinya bumi yang dilukiskan dengan tanah di bawah gapura, dan sarinya air yang digambarkan dengan atap gapura yang menggambarkan air berombak.
Gunungan atau kayon merupakan lambang alam bagi wayang, menurut kepercayaan hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang, menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta, lima zat yakni: Banu (sinar-udara-sethan), Bani(Brahma-api), Banyu (air), Bayu (angin), dan Bantala (bumi-tanah).
Dari kelima zat tersebut bercampur menjadi satu dan terwujudlah badan kasar manusia yang terdiri dari Bani, Banyu, Bayu, dan Bantala, sedang Banumerupakan zat makanan utamanya.
Makna kayon adalah hidup yang melalui mati, atau hidup di alam fana. Kayon dapat pula diartikan pohon hidup atau pohon budhi tempat Sang Budha bertapa. Kayon dapat disamakan dengan pohon kalpataru atau pohon pengharapan. Dapat pula disebut bukit atau gunung yang melambangkan sumber hidup dan penghidupan. 

Gunungan (Oleh: Cak SISMANTO)
Wayang kulit salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan, karena kesenian tersebut masih memiliki banyak penggemar. Hal itu tidak mengherankan jika wayang kulit memiliki berbagai nilai. Salah satu cara menentukan nilai atau bobot dalam kesenian wayang kulit dengan mendeskripsikan makna-makna yang terkandung di dalamnya. 
Adalah salah besar jika kita sebagai pemilik kebudayaan wayang, tidak mengerti wayang sama sekali, atau dalam pepatah Jawa Wong Jawa ora ngerti jawane. Agar kita tidak dikatakan sebagai orang yang tidak tahu akan diri kita sendiri, maka peneliti akan mencoba mengupas simbolisme ukiran gunungan atau kayon pada wayang kulit.

Gunungan merupakan simbol kehidupan, jadi setiap gambar yang berada di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya. Gunungan dilihat dari segi bentuk segi lima, mempunyai makna bahwa segi lima itu lima waktu yang harus dilakukan oleh agama adapun bentuk gunungan meruncing ke atas itu melambangkan bahwa manusia hidup ini menuju yang di atas yaitu Allah SWT. Gambar pohon dalam gunungan melambangkan kehidupan manusia di dunia ini, bahwa Allah SWT telah memberikan pengayoman dan perlindungan kepada umatnya yang hidup di dunia ini. Beberapa jenis hewan yang berada didalamnya melambangkan sifat, tingkah laku dan watak yang dimiliki oleh setiap orang. Gambar kepala raksasa itu melambangkan manusia dalam kehidupan sehari mempunyai sifat yang rakus, jahat seperti setan. Gambar ilu-ilu Banaspatimelambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat akan mengancam keselamatan manusia. Gambar samudra dalam gunungan kayon pada wayang kulit melambangkan pikiran manusia. Gambar Cingkoro Bolo-bolo Upoto memegang tameng dan godhodapat diinterprestasikan bahwa gambar tersebut melambangkan penjaga alam gelap dan terang. gambar rumah joglo melambangkan suatu rumah atau negara yang di dalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram dan bahagia. Gambar raksasa digunakan sebagai lambang kawah condrodimuka, adapun bila dihubungkan dengan kehidupan manusia di dunia sebagai lambang atau pesan terhadap kaum yang berbuat dosa akan di masukkan ke dalam neraka yang penuh siksaan. Gambar api merupakan simbol kebutuhan manusia yang mendasar karena dalam kehidupan sehari-hari akan membutuhkannya.

Tirta Sewana

Air terjun Madakaripura sampai saat ini masih dikeramatkan dan dianggap suci oleh umat Hindu sebagai ’ Tirta Sewana ’ ( air suci ). Setiap tahunnya, warga Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo menggunakan air dari air terjun Madakaripura sebagai air suci dalam prosesi ’ Mendhak Tirta ’ pada dua hari sebelum rangkaian upacara Yadnya Kasada. Dalam prosesi ’Mendhak Tirta’ itu sesajinya berupa janur, daging Ayam, buah, kembang dan dupa.
Menuju ke Air Terjun Madakaripura
Walaupun dalam papan petunjuk jarak antara Pasar Lumbang dan air terjun Madakaripura jaraknya 5 km tapi realitasnya bisa sekitar 8 km.
Setelah tiba di gerbang menuju air terjun Madakaripura maka akan disambut oleh patung Gajah Mada. Daerah disekitar air terjun Madakaripura inilah menjadi yang menjadi tempat tinggal terakhir Gajah Mada sebelum akhirnya mengundurkan diri dari peradaban di bumi ini dengan moksa.
Daerah menuju air terjun Madakaripura ini letaknya di perbukitan maka berhati-hatilah dalam perjalanan karena di kanan-kiri banyak terdapat lembah dan jurang yang cukup dalam. Semakin masuk ke dalam dan mendekati lokasi, lebar Jalan pun semakin sempit.
Tidak mudah untuk sampai di lokasi Air Terjun Madakaripura. Anda harus melalui perjalanan yang sangat menantang. Lintasan yang gersang dan bebatuan besar menghiasi sepanjang perjalanan menjadi penghalang utama. Namun, penampakan pelangi kecil akibat bias cahaya dan air yang menyembur menyapa mata setiap tamunya.
Sekitar 5 meter sebelum masuk ke air terjun, pengunung akan merasakan tertampar derasnya air yang jatuh dari ketinggian 200 meter. Tamparan air inilah yang memaksa setiap pengununjung yang mendekati lokasi air terjun untuk rela berbasah-basahan.
Anda harus sedikit bersabar karena air terjun utamanya masih terhalang oleh bukit. Tapi, keberadaan air terjun yang dilindungi oleh bukit dan tebing inilah yang membuat wisatawan penasaran dan ingin segera mengintip keindahannya.
Berada di ruang alam air Terjun Madakaripura, seolah membuat wisatawan seperti berada di dasar sebuah tabung raksasa. Air terjun dengan tinggi sekitar 200 meter ini dikelilingi tebing-tebing hijau yang tinggi. Guyuran air yang meresap di antara dinding tebing serta beberapa aliran air yang meluncur deras menjadikan panorama ini sangat menakjubkan.
Kisah Mahapatih Gajah Mada
Setelah mengundurkan diri sebagai Maha Patih Majapahit, maka Gajah Mada mengasingkan diri ke daerah terpencil dan bergelar Resi Tunggul Manik.
Pada saat Resi Tunggul Manik sampai di Madakaripura di malam purnama, beliau menemukan seorang anak kecil anak rakyat biasa yang sedang kedinginan dan untuk menghangatkan badannya dia membakar damar, anak kecil ini kemudian diambil menjadi muridnya.
Anak kecil yang pada malam purnama sedang membakar damar di Madakaripura inilah yang kemudian dinamakan Damar Wulan. Berkat gemblengan dan tuntunan langsung dari Resi Tunggul Manik, Damar Wulan kemudian mendapat wahyu keprabon dan kelak menggantikan Sang Maha Prabu Hayam Wuruk dengan gelar Brawijaya V atau Kertabumi.
Di wilayah sekitar air terjun Madakaripura inilah akhirnya Gajah Mada yang kemudian menjadi Resi Tunggul Manik mengundurkan diri dari peradaban di bumi ini dengan moksa. (Catatan: Kemampuan moksa adalah kemampuan yang dimiliki pemimpin-pemimpin Nusantara di masa lalu).

(Kisah tentang Maha Patih Gajah Mada ini bersumber dari Turangga Seta )

1      2      3      4      5      6      7      8      9      10

Lontar Menjadi Kertas

Proses pembuatan lontar
Di pulau Bali, daun-daun lontar sebagai alat tulis masih dibuat sampai sekarang. Pertama-tama daun-daun pohon siwalan dipetik dari pohon. Pemetikan biasa dilakukan pada bulan Maret/April atauSeptember/Oktober karena daun-daun pada masa ini sudah tua. Kemudian daun-daun dipotong secara kasar dan dijemur menggunakan panas matahari. Proses ini membuat warna daun yang semula hijau menjadi kekuningan.
Lalu daun-daun direndam di dalam air yang mengalir selama beberapa hari dan kemudian digosok bersih dengan serbet atau serabut kelapa.
Setelah daun-daun dijemur kembali, tapi sekarang kadang-kala daun-daun sudah dipotong dan diikat. Lalu lidinya juga dipotong dan dibuang.
Setelah kering daun-daun lalu direbus dalam sebuah kuali besar dicampur dengan beberapa ramuan. Tujuannya ialah membersihkan daun-daun dari sisa kotoran dan melestarikan struktur daun supaya tetap bagus.
Setelah direbus selama kurang lebih 8 jam, daun-daun diangkat dan dijemur kembali di atas tanah. Lalu pada sore hari daun-daun diambil dan tanah di bawah dedaunan dibasahi dengan air kemudian daun-daun ditaruh kembali supaya lembab dan menjadi lurus. Lalu keesokan harinya diambil dan dibersihkan dengan sebuah lap.
Lalu daun-daun ditumpuk dan dipres pada sebuah alat yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Alat ini merupakan penjepit kayu yang berukuran sangat besar. Daun-daun ini dipres selama kurang lebih enam bulan. Namun setiap dua minggu diangkat dan dibersihkan.
Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan. Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti.
Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah. Lontar sekarang siap ditulisi dan disebut dengan istilah pepesan dalam bahasa Bali dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.

Kertas, siapa yang tak mengenal bahan ini.
Banyak dipakai untuk buku, tisu, package...
Kita sangat membutuhkan kertas di era modern ini. Tapi tahukah anda bagaimana sejarahnya kertas di temukan?

Era Mesir
Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Tercatat dalam sejarah adalah peradaban China yang menyumbangkan kertas bagi Dunia. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.
Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga dizaman Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia.

Era China
Penemu bahan kertas Ts'ai Lun besar kemungkinan sebuah nama yang asing kedengaran di kuping pembaca. Menimbang betapa penting penemuannya, amatlah mengherankan orang-orang Barat meremehkannya begitu saja. Tidak sedikit ensiklopedia besar tak mencantumkan namanya barang sepatah pun. Ini sungguh keterlaluan. Ditilik dari sudut arti penting kegunaan kertas amat langkanya Ts'ai Lun disebut-sebut bisa menimbulkan sangkaan jangan-jangan Ts'ai Lun sebuah figur tak menentu dan tidak bisa dipercaya ada atau tidaknya. Tetapi, penyelidikan seksama membuktikan dengan mutlak jelas bahwa Ts'ai Lun itu benar-benar ada dan bukan sejenis jin dalam dongeng.
Dia seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan yang di tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Catatan Cina tentang penemuan Ts'ai Lun ini (terdapat dalam penulisan sejarah resmi dinasti Han) sepenuhnya terus terang dan dapat dipercaya, tanpa sedikit pun ada bau-bau magi atau dongeng. Orang-orang Cina senantiasa menghubungkan nama Ts'ai Lun dengan penemu kertas dan namanya tersohor di seluruh Cina.
Tak banyak yang dapat diketahui perihal kehidupan Ts'ai Lun, kecuali ada menyebut dia itu orang kebirian. Tercatat pula kaisar teramat girang dengan penemuan Ts'ai Lun, dan ia membuatnya naik pangkat, dapat gelar kebangsawanan dan dengan sendirinya jadi cukong. Tetapi, belakangan dia terlibat dalam komplotan anti istana yang menyeret ke kejatuhannya. Catatan-catatan Cina menyebut --sesudah dia disepak-- Ts'ai Lun mandi bersih-bersih, mengenakan gaunnya yang terindah, lantas meneguk racun.
Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia. Lama sekali Cina merahasiakan cara pembikinan kertas ini. Di tahun 751, apa lacur, beberapa tenaga ahli pembikin kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diprodusir di Bagdad dan Sarmarkand. Teknik pembikinan kertas menyebar ke seluruh dunia Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini. Sesudah itulah pemakaian kertas mulai berkembang luas dan sesudah Gutenberg menemukan mesin cetak modern, kertas menggantikan kedudukan kulit kambing sebagai sarana tulis-menulis di Barat.
Kini penggunaan kertas begitu umumnya sehingga tak seorang pun sanggup membayangkan bagaimana bentuk dunia tanpa kertas.
Di Cina sebelum penemuan Ts'ai Lun umumnya buku dibuat dari bambu. Keruan saja buku macam itu terlampau berat dan kikuk. Memang ada juga buku yang dibuat dari sutera tetapi harganya amat mahal buat umum. Sedangkan di Barat --sebelum ada kertas-- buku ditulis di atas kulit kambing atau lembu. Material ini sebagai pengganti papyrus yang digemari oleh orang-orang Yunani, Romawi dan Mesir. Baik kulit maupun papyrus bukan saja termasuk barang langka tetapi juga harga sulit terjangkau.
Kertas Di Indonesia
Di Indonesia, sebelum kertas dibawa masuk oleh orang Eropa, masyarakat menggunakan daun lontar untuk membuat naskah dan dokumen kerajaan.
Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer ataupalmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan.

1      2      3      4      5      6      7      8      9      10